Belajar Dari Lombok dan Palu, Panglima Minta Tambahan 3 Kapal Rumah Sakit TNI AL




Belajar dari bencana alam gempa bumi di Lombok dan Palu baru lalu, sangat terasa betapa keberadaan rumah sakit terapung sangatlah efektif dan efisien.

Karena terapung di tengah laut, kapal yang difungsikan sebagai rumah sakit relatif aman dari ancaman gempa susulan.

Gempa susulan menimbulkan trauma mendalam bagi warga yang mengalaminya, sehingga menghindari berada di dalam rumah termasuk di dalam rumah sakit. Karena itu fungsi rumah sakit pun lumpuh. Baik karena kerusakan yang terjadi maupun trauma berada di dalam ruangan.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengakui, keberadaan Kapal Perang TNI AL yang difungsikan sebagai rumah sakit terapung yaitu KRI dr. Soeharso-990, sangat membantu mempercepat pertolongan terhadap warga korban gempa.

Seperti saat gempa di Lombok, banyak korban patah tulang yang awalnya terlantar karena tidak bisa dioperasi. Baik warga maupun petugas medis, enggan melakukan operasi di dalam ruangan.

Melihat situasi seperti itu, Panglima TNI langsung memerintahkan KRI dr. Soeharso untuk lego jangkar di Lombok Utara.

Menyusul gempa dan tsunami serta likuifaksi di Palu, Marsekal Hadi kembali memerintahkan KRI dr. Soeharso-990 mengarah ke Palu.

"Sehingga semua korban bencana bisa diselesaikan dan saya mengucapkan teirma kasih kepada seluruh anggota TNI AL yang sudah mendarmabaktikan dirinya kepada ibu pertiwi," ungkap Panglima TNI.

Ungkapan terima kasih ini disampaikan Marsekal Hadi di hadapan keluarga besar alumni Akabri Delapan Enam (Adem) 86 Akademi Angkatan Laut (AAL) yang melaksanakan reuni 32 tahun di Mako AAL Bumimoro, Surabaya, Minggu (11/11/2018).

Dengan keberadaan KRI dr. Soeharso-990 pulalah Marsekal Hadi berani menolak tawaran Amerika Serikat untuk mengirimkan kapal rumah sakit USNS Mercy (T-AH-19).

Melalui kontak diplomatik, AS ketika itu ingin mengirimkan rumah sakit terapung seukuran kapal induk ini ke Palu. USNS Mercy adalah kapal rumah sakit yang tidak membawa senjata ofensif, kecuali senjata pertahanan saja.

Karena fungsi sosialnya itu, menembak USNS Mercy akan dianggap sebagai kejahatan perang.

"USNS Mercy akan dikirim dari Hawaii. Lalu saya sampaikan kepada Pak Wiranto bahwa kita hanya menerima bantuan angkutan udara dari Balikpapan ke Palu, sedangkan Mercy saya sampaikan terima kasih karena saya punya kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso," tutur Marsekal Hadi.

Kejadian beruntun di Lombok dan Palu ini menjadi perhatian bagi Hadi. Namun dengan hanya satu kapal rumah sakit yang dimiliki TNI, tentu akan kewalahan menghadapi situasi dengan eskalasi lebih tinggi.

"Apalagi negara kita berada di lingkaran cincin api, ring of fire, gempa bumi menjadi ancaman nyata," kata Hadi lagi.

Untuk itulah Hadi merasa sudah seharusnya TNI AL mengoperasikan lebih banyak kapal LPD (landing platform dock) seperti KRI dr. Soeharso.

"Saya perintahkan KSAL, saya minta pada Renstra 2 dan 3 ini untuk menambah tiga kapal rumah sakit sekelas Soeharso," ujar Hadi yang diapresiasi hadirin Adem 86 Laut.

Saat ini TNI AL mengoperasikan lima kapal LPD. Yaitu KRI dr. Soeharso, KRI Surabaya, KRI Banjarmasin, KRI Banda Aceh, dan KRI Makassar.

KRI dr. Soeharso-990 sebelumnya diberi nama KRI Tanjung Dalpele-972 sebagai kapal bantu angkut personel. Kemudian pada 2008 diubah fungsi sebagai kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) sampai sekarang.

Tidak ada komentar