Dilemparkannya Surat Pengangkatan Sebagai Qadhi Ke dalam Sungai


Qa’qa’ bin Hakim berkata, “Suatu hari aku berada di majelis al-Mahdi (seorang khalifah Bani Abbasiyah). Lalu datanglah Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar di masanya. Ketika  dia masuk, dia tidak memberi salam dengan menyebut nama Khalifah. Rabi’—seorang menteri al-Mahdi—berdiri di depannya sambil memegang pedangnya, dan terus mengamati gerak-geriknya. Khalifah berkata dengan wajah cerah, ‘Wahai Sufyan, kau selalu menghindar, apakah kau kira kalau kami ingin berbuat jahat kepadamu, kami tidak bisa melakukannya? Sekarang kami sudah mendapatkanmu, tidakkah kamu takut kalau kami menghukummu sesuai selera kami?”

Sufyan berkata, “Kalau kamu hukum aku maka kamu akan dihukum oleh Raja Yang Mahakuasa yang memisahkan antara hak dan batil.”

Rabi’ berkata, “Wahai Amirul Mukminin, apakah terhadap orang bodoh seperti ini, kau bersedia menemuinya dengan cara yang lembut? Apakah kauizinkan aku untuk menebas lehernya?”
Al-Mahdi berkata, “Diam kau! Apa yang diinginkannya dan juga orang-orang sepertinya tidak lain adalah agar kita membunuh mereka sehingga kita akan celaka, dan mereka akan bahagia. Tulis surat pengangkatannya sebagai qadhi (hakim) untuk wilayah Kufah dengan syarat  dia tidak boleh membantah dalam urusan pemerintahan.”

Surat pengangkatan itu diserahkan kepada Sufyan. Setelah surat itu diambilnya, dia keluar dan membuang surat itu ke dalam Sungai Dijlah. Setelah itu, dia menghilang. Setelah dicari-cari, tidak juga didapatkan. Sebagai gantinya, diangkatlah Syarik an-Nakh’i.

Tidak ada komentar